5 kekayaan Fauna Sumatera Terancam Punah

04.47 1 Comments A+ a-

Kekayaan Indonesia Kembali Terancam Punah

Berikut ini 5 kekayaan fauna di Sumatera terancam punah dan tak bisa di nikmati lagi oleh anak cucu  kita.

Harimau Sumatera

Tahukah anda jika saat ini populasi Harimau Sumatera semakin menurun? Jumlah populasi hewan gagah ini terancam punah karena mati ataupun karena perburuan yang sadis.Forum Harimau Kita (FHK) melansir hewan dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu diperkirakan berjumlah sekitar 250 ekor. Padahal data 1978 jumlahnya mencapai 1.000 ekor. Namun sembilan tahun kemudian, pada 1987 populasinya berkurang menjadi 500 ekor. Jumlah itu bertahan selama 5 tahun, 1992, lalu kembali turun menjadi 250 ekor pada 2010.

Sementara itu, data World Wildlife Fund (WWF) menyebut satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera, itu jumlahnya antara 300 sampai 400 ekor. Jumlahnya akan terus berkurang karena perburuan dan kerusakan hutan.WWF meramalkan itu bisa jadi benar, mengingat perburuan harimau Sumatera masih terjadi hingga kini. Baru-baru ini, Tim Perlindungan Harimau Sumatera menemukan aktivitas perburuan di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Provinsi Jambi."Berdasarkan jenis jerat aktif yang ditemukan oleh tim, pelakunya adalah pemburu harimau profesional," kata Manager Lapangan Perlindungan Harimau dan Konservasi TNKS Dina Risdianto beberapa waktu lalu.Dina melanjutkan, berdasar data hasil Operasi Sapu Jerat Tim Tiger Protection and Conservasi Unit TNKS, sementara ini mereka menemukan sebanyak 14 jerat harimau aktif tersebar di kawasan TNKS dekat perbatasan Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Diyakini bahwa pelakunya berbeda-beda dan datang dari mana saja karena jerat ditemukan tersebar hampir merata. Bila hal itu dibiarkan, bukan tidak mungkin populasi Harimau Sumatera akan semakin menurun, mirip nasib populasi harimau Jawa atau Bali.

Orangutan Sumatera

Kematian orangutan Sumatera nama latinnya Pongo abelii setiap tahunnya terus bertambah akibat kejamnya para pengusaha tambang & kelapa sawit. Penebangan liar yang dilakukan para pengusaha tersebut adalah yang memicu kepunahan spesies orangutan. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN), menyebutkan populasi Orang Utan Sumatera lebih parah daripada saudaranya di Kalimantan. Orang utan diklasifikasikan sangat terancam punah. Beberapa waktu yang lalu belasan aktivis ProFauna dan Yayasan Ekosistem Lestari melakukan kampanye Ride for Orangutan di Bundaran Majestik, Jalan Gatot Subroto, Medan, Selasa (7/5). Mereka mengampanyekan penyelamatan orangutan dan hutan Sumatera.Dalam aksinya, para aktivis membawa spanduk dan poster. Tak hanya itu, sebagian di antara mereka mengenakan kostum orangutan dan melakukan aksi teatrikal yang mempertontonkan tewasnya fauna dilindungi itu. Sontak kampanye ini mendapat perhatian dari para pengguna jalan.

"Aksi matinya orangutan di jalanan ini menggambarkan rusaknya hutan habitat orangutan," ujar Ketua ProFauna Rosek Nursahid di Medan, Selasa (7/5).Rosek menambahkan, rusaknya hutan habitat orangutan di Sumatera juga melibatkan pihak asing. "Mereka terlibat melalui perusahaan lokal Indonesia yang bergerak di bidang perkebunan dan pertambangan. Jika ini dibiarkan, maka hutan Sumatera akan hilang total," ucapnya.Rosek menilai cepatnya kerusakan hutan di Indonesia, terutama di Sumatera, diakibatkan kebijakan pemerintah yang mendua. "Di satu sisi, pemerintah mengajak masyarakat untuk melakukan penghijauan, tapi di sisi lain pemerintah memberikan izin pengelolaan hutan," ucap Rosek Nur Sahid.

Gajah Sumatera

Data World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menunjukkan sudah lebih dari 100 ekor gajah Sumatera dengan nama latin Elephas Maximus ditemukan mati di wilayah Riau, Sumatera sejak tahun 2004. Selama tahun 2012 lalu saja, di Riau ditemukan 30 gajah mati.Angka ini ternyata terus bertambah. Tanggal 31 Mei 2013 Tim Pemasangan GPS Collar WWF-Indonesia, menemukan lagi dua gajah Sumatera mati di kawasan Tesso Nilo. Temuan dua ekor bangkai gajah tersebut, masing-masing seekor jantan dewasa di lahan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Sektor Ukui dan seekor betina dewasa ditemukan di dalam batas wilayah Taman Nasional Tesso Nilo.Belakangan beredar foto tragis bangkai gajah Sumatera mati tanpa kepala karena dimutilasi. Binatang berbelalai endemik Indonesia yang populasinya kian menyusut tersebut dikabarkan mati karena diburu, kemudian dipotong kepalanya untuk diambil gadingnya.Pada 2012 lalu, WWF sempat mencatat 30 kasus perburuan gajah di kawasan hutan Aceh, masih di kawasan hutan Aceh Tengah--lokasi penemuan bangkai gajah jantan yang mati dengan kepala dimutilasi seperti dalam foto yang beredar kemarin. Menurut Sunarto, ada kemiripan dalam kasus yang terjadi pada 2012 lalu dengan kasus penemuan bangkai gajah kemarin.Bangkai gajah sama-sama jantan, ditemukan mati tanpa gading. Para pemburu gajah yang sadis. Rata-rata mereka profesional, makanya jarang tertangkap. Cara mereka mendapatkan gading dengan membunuh gajah jantan, kemudian mengambil gadingnya. "Kalau yang buru-buru lebih sadis lagi, mereka memutilasi kepala gajah, lalu membawanya pulang. Di rumah, baru gadingnya diambil," terangnya.Kasus yang terjadi di Aceh tengah tersebut mengindikasikan bahwa pemburu ingin mendapatkan gading dengan cepat. Mereka takut perbuatanya ketahuan, sehingga mereka langsung saja memenggal kepala gajah lalu dibawa pulang. "Gading gajah ini harganya memang mahal. Kami berharap pemerintah lebih serius lagi menyelamatkan gajah Sumatera. Kami harap dibentuk lah inteligen gajah," ujarnya.

Badak Sumatera

Badak Sumatera nama latinnya Dicerorhinus sumatrensis juga dikabarkan akan segera mendekati kepunahannya. Hal itu diketahui karena telah sedikitnya spesies badak yang masih bertahan hidup di kawasan Sumatera. Untuk mencegah kepunahan badak Sumatera ini, pihak Indonesia dan Malaysia sepakat untuk melakukan kerja sama dalam mewujudkan hal tersebut.

Dilansir dari Softpedia (01/05), kesepakatan yang terbentuk dari pertemuan tersebut adalah pihak Malaysia bersedia meminjamkan badak liar mereka untuk dikirim ke hutan Sumatera guna melakukan program pembuahan dengan badak asli Sumatera. "Kami dan pihak konservasi badak sumatera di Indonesia akan mengusahakan persetujuan dari pihak pemerintah Malaysia untuk melakukan hal yang terbaik demi menyelamatkan spesies badak Sumatera di Indonesia," ujar Laurentius Ambu selaku perwakilan dari Sabah Wildlife Department, Malaysia.Ambu juga menambahkan jika peminjaman badak dari Malaysia oleh Indonesia ini sudah menjadi satu-satunya cara untuk menyelamatkan spesies badak Sumatera, maka hal ini sepatutnya harus dilaksanakan sedari sekarang.

Tapir Sumatera

Tapir nama latinnya Tapirus indicus adalah binatang asli Sumatera, namun juga bisa ditemukan di Malaysia dan Thailand. Binatang ini mempunyai ciri khas hidung panjang yang sekilas mirip dengan belalai gajah. Hewan unik ini tubuhnya berwarna hitam putih dan setiap berjalan dan setiap berjalan pasti batang hidungnya selalu menyentuh tanah.Belakangan ini populasinya semakin menurun. Binatang ini terancam punah karena adanya penebangan liar hutan-hutan oleh manusia. Sehingga hutan menjadi gundul dan mengakibatkan banjir. Akibatnya habitat-habitat binatang yang ada di hutan tersebut banyak yang mati.Dalam masalah ini, hanya Suaka Marga Satwa lah yang ditunjuk sebagai kawasan penting bagi perlindungan binatang hampir punah tersebut. Bukan hanya badak, gajah dan harimau saja yang dilindungi, tapi Tapir juga merupakan salah satu binatang satwa yang harus dilindungi karena terancam punah.Ancaman terbesar dari hewan hewan diatas adalah perburuan dan penebangan liar oleh manusia,habitat jadi rusak dan manusia seolah olah tidak perduli lagi dengan kekayaan yang dimiliki negeri tercinta ini.Alasan pertumbuhan ekonomi dan pesatnya kebutuhan akan pembangunan serta sarana perumahan dan lahan lahan baru untuk bercocok tanam semoga tidak dijadikan alasan manusia untuk tidak bersikap kurang arif pada lingkungannya.kalo tidak kita sendiri menjaganya siapa lagi..?
sumber: merdeka.com dan dikelola dari berbagai sumber.

1 komentar:

Write komentar
Anonymous
AUTHOR
29 Juli 2013 18.19 delete

hemmm...miris banget ea..
kita gak bz lakuin apa2 klo pemerintahnya masi aja gak mw peduli..
ujung dari smw itu kan cm uang..males mw teriak2 selametin hutan klo pihak yang berwenang cma ongkang2 kaki malah memberikan fasilitas buat pemburu musnahin habitat hewan yang ada.

Reply
avatar